Sabtu, 11 Juli 2009

Gombloh: Si Otak Brilian dengan Jiwa Seniman yang Nasionalis

Buat kita sebagai anak muda yang hidup di tahun 2000an, mungkin kita agak asing dengan nama Gombloh. Apalagi, telinga anak muda zaman sekarang kurang begitu akrab dengan jenis musik balada dan nasionalis. Namanya memang tidak sefenomenal Michael Jackson yang pemakamannya disaksikan oleh seluruh dunia, baik secara langsung maupun lewat penanyangan di televisi. Namun, jangan meremehkan seorang Gombloh yang merupakan produk lokal. Jasa-jasanya dalam industri musik Indonesia patut dikenang dan diacungi jempol. Bisa dikatakan ada sedikit jiwa seorang Michael Jackson yang konon lirik lagunya menggambarkan tentang kepeduliannya dengan anak-anak, kerusakan alam dan bencana kelaparan.
Gombloh yang lahir di Jombang, Jawa Timur, 14 Juli 1948 ini terlahir dengan nama asli Soejarwoto Soemarsono mempunyai otak yang brilian. Beliau merupakan lulusan SMAN 5 Surabaya dan sempat kuliah di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Sayangnya tidak selesai karena ia tidak bisa hidup dengan jadwal kuliah yang disiplin dan sering bolos, sampai-sampai mendapatkan surat peringatan. Ia pun menghilang ke Bali dan memutuskan untuk menjadi seniman. Ia pun mengakhiri karyanya pada 9 Januari 1988 karena tubuhnya yang kurus memang menyimpan banyak penyakit. Ditambah lagi dengan kebiasaannya sebagai perokok berat. Namun, karena semangat hidupnya yang tinggi, beliau bisa bertahan hidup cukup lama.
Soal menciptakan lagu balada, Gombloh adalah jagoannya. Beliau bekerjasama dengan Leo Kristi dan Franky Sahilatua di kelompok “Lemon Trees”. Hal ini membuatnya dekat dengan gaya orchestral rock. Dalam lagu baladanya, banyak menceritakan tentang kehidupan sehari-hari rakyat kecil. Seperti lagu “Doa Seorang Pelacur”, “Kilang-Kilang”, “Poligami Poligami”, Nyanyi Anak Seorang Pencuri”, “Selamat Pagi Kotaku”. Ia juga tergerak menulis lagu tentang kerusakan alam. Ia juga piawai dalam menciptakan lagu cinta yang cenderung ‘nyeleneh’, seperti karya Iwan Fals dan Doel Sumbang, misalnya “Lepen” (“got” dalam bahasa Jawa, tetapi di sini adalah singkatan dari “Lelucon Pendek”).
Anak ke empat dari enam bersaudara dalam keluarga Selamet dan Tatoekah ini lebih berciri khas lewat lagu-lagunya yang nasionalis ciptaannya, seperti “Dewa Ruci”, “Gugur Bunga”, “Gaung Mojokerto-Surabaya”, “Indonesia Kami”, Indonesiaku, Indonesiamu”, “Pesan Buat Negeriku”, dan “BK”, tentang Bung Karno. Lagu “Kebyar-Kebyar” banyak dinyanyikan di masa perjuangan menurut reformasi. Beliau juga pernah merilis album bahasa Jawa dengan interpretasinya yang progresif, berjudul “Sekar Mayang”. Hingga kini jejaknya belum pernah diikuti oleh musisi lain. “Hong Wilaheng”, salah satu lagu berbahasa Jawa dari album “Berita Cuaca” mendapat pengaruh kuat dari gaya bernyanyi Leo Kristi dan liriknya diambil dari Serat Wedhatama. Lagu-lagu beliau sempat diangkat dalam penelitian Martin Hatch seorang peneliti dari Universitas Cornell dan ditulis sebagai karya ilmiah yang berjudul "Social Criticsm in the Songs of 1980’s Indonesian Pop Country Singers", yang dibawakan dalam seminar musik The Society of Ethnomusicology di Toronto, Kanada pada 2000.Pemerintah baru memberi perhatian kepada karya seninya setelah ia meninggal dunia pada lagunya “Kebyar-Kebyar”. Semasa ia hidup, lagu ini tidak mendapatkan perhatian sama sekali. Pada 1996 sejumlah seniman Surabaya membentuk Solidaritas Seniman Surabaya dengan tujuan menciptakan suatu kenangan untuk Gombloh yang dianggap sebagai pahlawan seniman kota itu. Mereka sepakat membuat patung Gombloh seberat 200 kg dari perunggu. Patung ini ditempatkan di halaman Taman Hiburan Rakyat Surabaya, salah satu pusat kesenian di kota itu. Di bulan Juli ini, sesuai dengan bulan kelahiran beliau, kita juga mau mengenang dan menghormati karya-karyanya.
Banyak seniman yang mengambil jalan aman dengan menulis lagu-lagu cengeng dan melankolis. Lagu-lagu jenis itulah yang hingga kini digemari oleh orang Indonesia. Tetapi, seorang Gombloh berani mengambil risiko untuk mengambil jalur balada dan nasionalis, yang menggambarkan realita kehidupan dan cinta tanah air. Bukan sekedar menjanjikan angan-angan dan mengasihani diri sendiri. Perjuangan dan semangat hidupnya tidaklah sia-sia karena tanah perjanjian dalam bermusik sudah ia genggam meskipun didapatkan ketika ia sudah menutup mata. Bisa dilihat dari vokalis dan grup musik, seperti Piyu, Ahmad Dani dan Cokelat yang lagunya cukup banyak yang bersifat nasionalis. Maju terus musik balada dan nasionalis Indonesia melalui semangat nasionalisme Gombloh!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar