Berkat tangan dingin Elfa Secioria Hasbullah, grup musik ini bisa terbentuk sejak 8 Agustus 1978 silam. Perjalanan sepanjang tiga dasawarsa membuat personil di dalamnya selalu berganti-ganti. Hebatnya, semua personil yang pernah dan masih tergabung di dalamnya adalah musisi berkualitas dan tenik vokalnya tidak diragukan lagi. Nama-nama yang pernah menghiasi vokal di Elfa’s Singer, antara lain Agus Wisman, Arifin Y, Nana Suryana F, Kusnadi Majid, Renny Djayoesman, Ine Suherman, Rita Mustamsikin, Poppy Sabar, Ferina, Ruth Sahanaya, Irianti Erningpraja, Toni Sianipar, Lita Zein, Yana Yulio, Titi Dwi Jayati, dan Uci Nurul. Sejak tahun 1996-lah Elfa’s Singer mampu bertahan dengan empat personil, yaitu Agus Wisman, Lita Zein, Uci Nurul, dan Yana Yulio. Elfa's Singer telah mengeluarkan album “Lebaran”, “Kasmaran” (1988), “From Indonesia with Love” (1989), “Aku Jatuh Cinta” (1992), dan “Selamat Malam Kekasih” (1996). 12 tahun kemudian, album lagu kembali dibuat, “Sing The Best”: 30 Tahun Karier (2008). Secara keseluruhan lagu dalam album ini berjumlah 11 (all new arrangement). Hanya 3 lagu baru yang diciptakan Yana Julio dan Elfa Secioria, yakni ”Berlari”, ”Melayang”, dan ”Let’s Jive”.
12 tahun terakhir, Elfa’s Singer lebih banyak mewakili indonesia di festival di luar negeri. Tahun 1999, grup musik ini mengikuti International Choir Festival dan sejak 2000 menjadi peserta ajang dua tahunan World Olympic Choir, serta selalu merebut Grand Champion untuk kategori pop dan jazz. Sampai 2013, Elfa’s Singer dikontrak Intercultural Korea untuk bernyanyi di kota-kota yang ada di negara itu.
Album yang pembuatannya bermula dari pemaksaan ini, digarap langsung oleh pendirinya, Elfa Secioria Hasbullah dan berhasil menggandeng musisi handal, seperti Tohpati, Indro Hardjodikoro. Usia senja sebuah grup musik tidak selalu identik dengan jadul, atau pun kolaborasi dengan musisi yang senior dengan usia senja pula. Buktinya, Elfa’s Singer berani menggandeng penyanyi muda berbakat, seperti Andien, Sherina dan kelompok vokal belia, Evoice. Salah satu lagunya ada yang diambil dari grup musik masa kini, Samsons yang berjudul “Kenangan Terindah”.
Tidak ada kata kadaluarsa untuk lagu-lagu lawas bagi Elfa’s Singer. Mereka mampu membuktikan, bahwa dengan suara emas mereka yang didukung dengan kreativitas, setiap lagu lawas akan terasa baru didengar oleh penikmat musik yang hidup di angkatan sekarang. Tak heran kalau pembuktian ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar tak lekang oleh waktu.

Di tahun 2009 ini nampaknya menjadi ajang persaingan yang cukup ketat di dunia musik. Cukup banyak penyanyi dan grup musik yang kembali menunjukkan taringnya kembali setelah sekian lama tidak membuat single dan album. Ada Whitney Houston yang akan mengeluarkan albumnya September nanti dan pada bulan Agustus ada All 4 One. Shakira pun tidak mau ketinggalan kereta. 15 Juli 2009 kemarin merupakan saksi single “She-Wolf” diluncurkan pertama kali dalam versi bahasa Spanyol. Track ini ditulis dan diproduseri sendiri oleh John Hill dan Shakira. Langsung melakukan debut No. 23 dalam chart Billboard Hot Latin Songs. 

Kalau bernostalgia ke tahun 1990an, telinga kita tidak akan asing dengan lirik lagu dari All 4 One, seperti “I Swear”, “I Can Love You Like That”, “I’m Your Man”, “So Much In Love”. Apalagi, lagu-lagu itu sudah mengecap manisnya masuk nominasi dari ajang penghargaan musik bergengsi seperti Grammy Awards dan American Music Awards. Grup musik yang terdiri dari Tony Borowlak, Jamie Jones, Delious Kennedy, Alfred Nevarez ini dari dulu memang terkenal dengan jenis musik pop, R&B dan soul dalam setiap alunan lagunya. Dan memang tidak bisa dipungkiri kalau mereka sangat kental dengan cap ‘boy band’, layaknya Boyzone, Westlife dan Backstreet Boys yang sedang hidup-hidupnya juga pada zaman itu.
Buat kita sebagai anak muda yang hidup di tahun 2000an, mungkin kita agak asing dengan nama Gombloh. Apalagi, telinga anak muda zaman sekarang kurang begitu akrab dengan jenis musik balada dan nasionalis. Namanya memang tidak sefenomenal Michael Jackson yang pemakamannya disaksikan oleh seluruh dunia, baik secara langsung maupun lewat penanyangan di televisi. Namun, jangan meremehkan seorang Gombloh yang merupakan produk lokal. Jasa-jasanya dalam industri musik Indonesia patut dikenang dan diacungi jempol. Bisa dikatakan ada sedikit jiwa seorang Michael Jackson yang konon lirik lagunya menggambarkan tentang kepeduliannya dengan anak-anak, kerusakan alam dan bencana kelaparan. Gombloh yang lahir di Jombang, Jawa Timur, 14 Juli 1948 ini terlahir dengan nama asli Soejarwoto Soemarsono mempunyai otak yang brilian. Beliau merupakan lulusan SMAN 5 Surabaya dan sempat kuliah di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Sayangnya tidak selesai karena ia tidak bisa hidup dengan jadwal kuliah yang disiplin dan sering bolos, sampai-sampai mendapatkan surat peringatan. Ia pun menghilang ke Bali dan memutuskan untuk menjadi seniman. Ia pun mengakhiri karyanya pada 9 Januari 1988 karena tubuhnya yang kurus memang menyimpan banyak penyakit. Ditambah lagi dengan kebiasaannya sebagai perokok berat. Namun, karena semangat hidupnya yang tinggi, beliau bisa bertahan hidup cukup lama. Soal menciptakan lagu balada, Gombloh adalah jagoannya. Beliau bekerjasama dengan Leo Kristi dan Franky Sahilatua di kelompok “Lemon Trees”. Hal ini membuatnya dekat dengan gaya orchestral rock. Dalam lagu baladanya, banyak menceritakan tentang kehidupan sehari-hari rakyat kecil. Seperti lagu “Doa Seorang Pelacur”, “Kilang-Kilang”, “Poligami Poligami”, Nyanyi Anak Seorang Pencuri”, “Selamat Pagi Kotaku”. Ia juga tergerak menulis lagu tentang kerusakan alam. Ia juga piawai dalam menciptakan lagu cinta yang cenderung ‘nyeleneh’, seperti karya Iwan Fals dan Doel Sumbang, misalnya “Lepen” (“got” dalam bahasa Jawa, tetapi di sini adalah singkatan dari “Lelucon Pendek”). Anak ke empat dari enam bersaudara dalam keluarga Selamet dan Tatoekah ini lebih berciri khas lewat lagu-lagunya yang nasionalis ciptaannya, seperti “Dewa Ruci”, “Gugur Bunga”, “Gaung Mojokerto-Surabaya”, “Indonesia Kami”, Indonesiaku, Indonesiamu”, “Pesan Buat Negeriku”, dan “BK”, tentang Bung Karno. Lagu “Kebyar-Kebyar” banyak dinyanyikan di masa perjuangan menurut reformasi. Beliau juga pernah merilis album bahasa Jawa dengan interpretasinya yang progresif, berjudul “Sekar Mayang”. Hingga kini jejaknya belum pernah diikuti oleh musisi lain. “Hong Wilaheng”, salah satu lagu berbahasa Jawa dari album “Berita Cuaca” mendapat pengaruh kuat dari gaya bernyanyi Leo Kristi dan liriknya diambil dari Serat Wedhatama. Lagu-lagu beliau sempat diangkat dalam penelitian Martin Hatch seorang peneliti dari Universitas Cornell dan ditulis sebagai karya ilmiah yang berjudul "Social Criticsm in the Songs of 1980’s Indonesian Pop Country Singers", yang dibawakan dalam seminar musik The Society of Ethnomusicology di Toronto, Kanada pada 2000.Pemerintah baru memberi perhatian kepada karya seninya setelah ia meninggal dunia pada lagunya “Kebyar-Kebyar”. Semasa ia hidup, lagu ini tidak mendapatkan perhatian sama sekali. Pada 1996 sejumlah seniman Surabaya membentuk Solidaritas Seniman Surabaya dengan tujuan menciptakan suatu kenangan untuk Gombloh yang dianggap sebagai pahlawan seniman kota itu. Mereka sepakat membuat patung Gombloh seberat 200 kg dari perunggu. Patung ini ditempatkan di halaman Taman Hiburan Rakyat Surabaya, salah satu pusat kesenian di kota itu. Di bulan Juli ini, sesuai dengan bulan kelahiran beliau, kita juga mau mengenang dan menghormati karya-karyanya. Banyak seniman yang mengambil jalan aman dengan menulis lagu-lagu cengeng dan melankolis. Lagu-lagu jenis itulah yang hingga kini digemari oleh orang Indonesia. Tetapi, seorang Gombloh berani mengambil risiko untuk mengambil jalur balada dan nasionalis, yang menggambarkan realita kehidupan dan cinta tanah air. Bukan sekedar menjanjikan angan-angan dan mengasihani diri sendiri. Perjuangan dan semangat hidupnya tidaklah sia-sia karena tanah perjanjian dalam bermusik sudah ia genggam meskipun didapatkan ketika ia sudah menutup mata. Bisa dilihat dari vokalis dan grup musik, seperti Piyu, Ahmad Dani dan Cokelat yang lagunya cukup banyak yang bersifat nasionalis. Maju terus musik balada dan nasionalis Indonesia melalui semangat nasionalisme Gombloh! 
